Tugas menyusun cerita sejarah

Nama  : Azzahra Khalisa Haerudin
Kelas  : XII MIPA 9
Absen : 05


Pemenang yang Keras

          Kegemaran setiap orang tentu saja berbeda, baik perempuan maupun laki-laki. Namun yang kita ketahui kebanyakan perempuan memiliki kegemaran seperti menggambar, bernyanyi, memasak atau bahkan menata rias wajah (make up). Berbeda dengan kegemaranku yaitu bermain bulu tangkis. Perkenalkan, aku Lucia Francisca Susy Susanti Haditono yang akrab dipanggil Susi oleh orang-orang sekitar. Lahir di Tasikmalaya pada 11  Februari 1971. Kedua orang tuaku membebaskanku untuk mencoba segala hal ketika aku masih kecil. Dengan tujuan agar mereka dan aku sendiri tau apa yang aku senangi dan mampu kulakukan. Berakhir di bulutangkis, sejak kecil aku sudah terbiasa bermain bulutangkis. Mengetahui aku cukup handal dalam bermain cabang olahraga tersebut, ayahku yang paling bersemangat melatihku saat itu. Karena kebetulan ayahku dulunya sangat senang bermain bulutangkis, hanya saja orang tuanya tidak menyukai apa yang ayahku gemari. Dengan penuh harap aku akan sukses dalam olahraga bulutangkis ini, aku tergabung dalam klub bulutangkis pamanku, PB Tunas Tasikmalaya. Jika dapat dikatakan, duniaku hanya seputar bulutangkis.

          Tidak ada yang menarik untukku, cara berpakaianku pun sederhana dan tidak berniat untuk mempercantik diri. Beberapa teman kecilku mengolok mengatakan bahwa sebaiknya aku mulai merawat dan memerhatikan diri. Suatu hari ketika aku sedang bermain bulutangkis di lapangan sekolah siang hari, terlihat dua orang laki-laki di pinggir lapangan, dan dari salah satunya terdengar berteriak “Susi, tidakkah kamu taku kulitmu terbakar dan hangus, lagipula siang-siang begini kamu akan berkeringat, jangan lupa kalau kamu itu seorang perempuan”. “Setidaknya dia handal dalam hal tersebut, lebih baik kamu diam atau kutampar mulutmu” timpal Hani. Hani adalah sahabat dekatku, kita saling mengenal dan mengetahui satu sama lain. “Haduh, lagipula sesudah ini aku akan mandi dan tidak akan bau” akupun ikut membalas dengan malas. Tidak jarang orang yang berkata seperti itu, namun tidak jarang juga yang mendukung dan senang terhadap apa yang selalu kulakukan.

          Ketika keluarga sedang berkumpul di ruang tengah, sibuk dengan kegiatannya masing-masing sementara aku mengerjakan tugas. Seringkali aku menceritakan apa saja yang terjadi di sekolah, kali ini aku teringat dengan bualan laki-laki di sekolah tadi. “Ayah, apa salahnya aku bermain bulutangkis. Memangnya perempuan tidak boleh bermain bulutangkis. Aku kan sering melihat atlet perempuan” ocehanku sebagai anak SD yang sedang kesal karna olokan temannya. Aku selalu melawan siapapun yang mengomentari apa yang aku lakukan dan hal tersebut membuatku marah. “Tentu saja perempuan boleh bermain bulutangkis, memangnya kenapa Susi? Ada yang bilang tidak boleh kah?” ayah berbicara tanpa melihat ke arahku, tangannya sibuk dengan pulpen dan kertas, tapi aku bisa melihat ayah tersenyum. “Tadi ada yang bilang Susikan perempuan, masa berkeringat. Bukannya itu sehat?” aku masih kesal tiap kali mengingatnya, bahkan tugas yang tadinya sedang kukerjakan, aku tinggalkan. Pandanganku hanya terfokus pada ayah yang masih sibuk menulis dengan mata menyipit. “Oh iya dong! berkeringat karna olahraga itu sehat, mungkin temanmu belum tahu” kali ini ayah melihat ke arahku. Ibu mengusap rambutku kemudian duduk di sebelahku “Kalau kamu suka, lakukan saja, jangan hiraukan kata orang. Sudah, kerjakan dulu tugasmu itu. Kalau peringkatmumu tidak turun, akan ibu belikan raket baru”. “Hah? Beneran bu? kalau peringkatku tidak naik bagaimana?” tanyaku ketika mengingat saingan di atasku begitu sulit. “Tetap ibu belikan, asalkan tidak turun” mendengarnya aku melompat sambil berteriak bagaikan orang yang baru saja memenangkan undian.

          Hani, sahabatku yang selalu membantuku ketika kesulitan dalam belajar dan memahami materi sekolah merupakan murid peringkat 3 besar paralel di kelasku. Sementara aku hanya murid biasa yang selalu berada di peringkat belasan. Untungnya ayah dan ibu bukan tipe orang tua yang menuntut anaknya untuk mendapat peringkat bagus. Kata ayah, asalkan aku bisa membagi waktu belajar, bermain dengan bermain bulutangkis, ayah tidak akan marah. Aku berada di peringkat tengah bukan karena aku bodoh, namun memang batas kemampuanku sampai situ. Kalaupun aku memaksakan untuk meraih peringkat atas dan tercapai, aku rasa aku hanya bertahan sebentar dan merasa jenuh. Jika ditanya oleh guru apa cita-citaku, tentu aku menjawab atlet bulutangkis. Semua teman-teman perempuanku akan menjawab dokter, guru, dan pennyanyi, aku tidak merasa malu untuk menjadikan atlet bulu tangkis sebagai cita-citaku, karena memang menurutku tidak ada salahnya. Namun selalu ada saja yang menertawakannya, meskipun jumlah yang menertawakan lebih sedikit dibandingkan dengan yang kagum dan ikut mendukung. Bagiku justru sudut pandang buruk itu menjadi sorotan dan fokusku dalam mengejar impian tersebut.

          Ketika aku sedang berlatih di klub pamanku, pamanku menawariku untuk mengikuti semacam pertandingan kejuaraan untuk anak-anak. Lalu apa jawaban dan reaksiku? Aku berteriak menjawab “YA! AKU MAU! KAPAN ITU PAMAN?” hingga satu aula menengok ke arahku. “2 bulan lagi, nanti paman kasih tahu ayah dengan ibumu dulu ya, kamu berlatih saja” begitu mendengar perkataan paman, aku mengangguk semangat kemudian kembali berlatih dengan menggebu-gebu. Sebenarnya aku sudah sering mengikuti lomba bulutangkis, namun mendengar kata kejuaraan aku merasa kali ini akan lebih sulit dan keren. Membayangkan aku menjadi juaranya saja sudah membuatku kesenangan tidak karuan. Hampir 2 bulan aku berlatih, di hari di mana aku bertanding, aku merasa sedikit gugup. Bagiku ini akan menjadi pengalaman terbaikku sebagai anak kecil yang tidak melakukan apa-apa selain bulutangkis. Dengan izin Tuhan, aku memenangi kejuaraan tersebut. Ya, aku menjadi pemenang kejuaraan level junior saat itu. Ibu menangis sementara ayah dan paman tidak henti hetinya menepuk pundakku kegirangan sembari memberi pujian. Benar saja, kejuaraan kali ini menjadi pengalaman yang sangat berharga dan tidak bisa dilupakan.

          Akhir semester di depan mata, di kelas 6 ini juga aku mulai memaksakan belajar untuk mendapat NEM yang baik sehingga dapat diterima di SMP yang terbaik, namun itu keinginan ibu. Aku tidak begitu menginginkan masuk ke SMP favorit, yang kuinginkan hanyalah fokus bermain bulu tangkis. Berbeda dengan ibu, ayah tidak masalah di manapun aku diterima, asalkan aku giat tidak menjadi masalah besar. Pada akhirnya di umur 14 tahun, aku pindah ke Jakarta untuk menekuni bulu tangkis, ibu tidak marah justru turut mendukungku. Karena setelah aku memenangkan kejuaraan sebelumnya, ibu semakin sadar bahwa bulu tangkis adalah duniaku, tidak peduli apa yang orang lain dan teman katakan, aku akan tetap bermain bulu tangkis. Dari kejuaraan tersebutlah ayah menyekolahkanku Jakarta. Di sana berbeda dengan di Tasikmalaya tempatku lahir. Banyak hal yang tidak ada di Tasik dan baru pertama kali kulihat seperti gedung yang sangat tinggi. Selain kondisi kota yang berbeda, lingkungan sekolahku kali inipun berbeda. Di sini hanya ada para atlet, aku juga tinggal di asrama yang berisikan atlet-atlet. Aku merasa senang bisa berada dekat dengan orang yang memiliki kegemaran yan sama. Namun di sisi lain aku sedih karena harus berpisah dengan Hani.

          Di sini aku juga terbilang sangat sibuk. Namun disibukan hanyan dengan berlatih berlatih dan berlatih. Dalam satu minggu bersekolah selama 6 hari. Senin sampai Sabtu mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 11.00, kemudian dilanjutkan dari pukul 15.00 sampai pukul 19.00. Peraturan tentang makan, jam tidur sampai tentang pakaian sangat ketat. Aku tidak diperbolehkan menggunakan sepatu dengan hak tinggi untuk menghindari kemungkinan cedera kaki. Apakah aku jenuh? tentu saja aku pernah merasakannya, namun aku senang melakukannya karena inilah yang aku gemari. Justru aku sangat senang bisa menekuni bulutangkis lebih dalam, dan berpikir bahwa aku dapat menjadi atlet bulutangkis seperti halnya cita-citaku. Di hari minggu alih-alih berlibur, aku lebih  memilih untuk beristirahat mengingat jadwalku yang terbilang sangat padat. Di sini juga aku menjadi sadar bahwa aku bukanlah yang terbaik, banyak teman-teman yang jauh lebih handal, dan hal tersebut membuatku untuk  tidak berhenti berlatih. Setiap kali ditandingkan dengan lawan, aku hanya fokus pada diriku sendiri. Kalah ataupun menang, selagi aku bisa meningkatkan potensiku di pertandingan tersebut, aku akan menerimanya. Beberapa orang mengatakan bahwa jika aku bertanding pasti akan menang.

          Aku bahkan didaftarkan World Championship Junior, sehingga jadwal semakin padat. Dengan kejuaraan tersebut aku semakin sering berlatih tanpa mengenal lelah. Yang kupikirkan hanya menjadi juara World Championship Junior dan membagakan ayah bunda. Pelatihku sangat memercayaiku dalam kejuaraan ini. Persiapanku cukup serius untuk kejuaraan ini, seluruh tenaga kukerahkan untuk memenangkannya. Di tahun yang sama 1985 ketika usiaku 14 tahun, aku sukses mendapatkan gelar juara World Championship Junior. Aku mendapatkan gelar tersebut ketika turun di nomor tunggal putri, ganda putri dan ganda campuran. Saat itu  dibanjiri pujian, seluruh pelatih dan teman-teman tidak henti-hentinya memberi selamat. Ayah dan ibu mengajakku berjalan-jalan sebagai hadiahnya, sebenarnya mereka menawarkan untuk membelikanku sesuatu, tetapi aku lebih memilih liburan hitung-hitung mencari udara. Karena sedari awal aku pindah ke Jakarta, aku jarang sekali pergi ke luar untuk berlibur.

          Pelatih memberiku waktu 2 hari untuk berlibur, ke luar asrama. Baru kali ini aku sangat antusias untuk meninggalkan asrama. Sebenarnya liburanku kali ini tidak pergi ke tempat-tempat wisata. Hanya saja aku ingin mengelilingi kota Jakarta. Melihat gedung yang sangat tinggi dan dilapisi oleh kaca, melihat ratusan mobil-mobil di jalan, dan aktivitas-aktivitas oran di luar sana, aku paling senang melihat mobil berwarna kuning di sini. Bagiku hal seperti ini adalah cara terbaik untuk menenangkan dan melepaskan semua beban pikiran dan lelah. Aku keluar asrama untuk pertama kalinya dengan gelar juara World Championship Junior. Selama berkeliling, terlintas di pikiranku betapa banyak kegiatan yang kutinggalkan hanya untuk bermain bulutangkis. Mungkin aku tidak begitu tahu lagu-lagu yang sedang terkenal seperti anak-anak di luar sana. Melihat anak remaja seumuranku yang berjalan-jalan dengan orang tuanya, membeli banyak hal dan memiliki banyak waktu bersama cukup membuatku berpikir dua kali untuk kembali ke asrama. Rasanya aku sudah jatuh terlalu dalam dengan bulutangkis. Bagaimanapun, inilah cita-citaku, mengorbankan banyak hal asalkan aku bisa menggarap cita-citaku sebagai atlet bulu tangkis dengan senang  hati kulakukan.

          Ayah dan ibu mengajakku untuk makan di salah satu tempat makan di pinggiran Jakarta. Aku duduk di sebelah ibu, menceritakan bagaimana keadaanku selama di asrama, menceritakan pelatih-pelatih yang berbeda-beda cara dalam melatih. Aku juga menceritakan satu-satunya teman terdekat di asrama, namanya Ella, ia asli orang Surabaya yang pindah ke Jakarta untuk menekuni bulu tangkis, sama halnya denganku. Aku juga menceritakan sahabat Ella yang juga pemain bulutangkis di sini, katanya ia tidak kalah hebat denganku. “Siapa namanya?” Ayah bertanya sembari mengaduk minumannya dengan sedotan. Aku sempat berpikir sejenak “Ella ga pernah ngasih tau aku, tapi dia laki-laki” mengingat bahwa Ella memang tidak pernah menyebut namanya tiap kali ia menceritakan sahabatnya itu. Yang ku tahu, Ella selalu bersemangat menceritakannya kepadaku. Setelah selesai makan, aku dan ayah ibu kembali ke mobil dan memutuskan untuk kembali ke asrama, karena akupun sudah merasa cukup dengan liburan ini. Di perjalanan dekat dengan asramaku, aku melihat anak laki-laki dengan tas raket yang digendongnya. Aku sempat membeku ketika melihatnya, entah apa yang kupikirkan tapi ia terlihat sangat atraktif. Sepertinya ini pertama kali aku tertarik dengan laki-laki, karena selama ini aku hanya fokus dengan bulu tangkis dan bulu tangkis. Ella juga pernah bertanya apakah aku pernah menyukai seseorang. Namun selalu ku jawab tidak, karena memang kenyataannya tidak. Sewaktu di Tasikmalaya justru aku selalu kesal dengan laki-laki karena mereka selalu mengganggu dan mencampuri urusanku.

          Sesampainya di asrama, aku masih memikirkan laki-laki yang kulihat di jalan tadi. Di sini tidak ada Ella, mungkin dia sedang berlatih. Aku merapikan barang-barang kubawa dari luar, beberapa terdpat pemberian dari ayah bunda. Yang kulakukan tidak banyak setelah di asrama, akupun membuka buku kecil dan mengambil pulpen. Sejujurnya aku jarang sekali menulis, tapi kali ini aku sangat ingin menuliskan sesuatu. Apa yang kutuliskan di buku kecil itu adalah cerita bagaimana liburanku setelah mendapat gelar juara World Championship Junior, keadaan kota Jakarta di luar sana hingga aku bertemu dengan laki-laki yang tidak jauh dari asramaku. Dalam hitungan detik Ella mengetuk dan membuka pintu kamar. Ia terlihat berkeringat dan mukanya sedikit memerah “Loh Susi, kamu sudah di sini? Memangnya kamu liburan ke mana?” celetuk Ella sembari menyimpan peralatan bulu tangkisnya itu. Aku tersenyum melihat Ella “aku hanya berkeliling sekitaran Jakarta, tidak banyak tempat yang kukunjungi, tapi aku sangat senang”. Ella hanya mengangguk kemudian menghampiriku, “Nulis apa?” aku yang menyadari Ella melihatku memegang pulpen dan buku langsung menyuruh Ella duduk di depanku. “Kenapa?” tanyanya heran, “Tadi di perjalanan aku melihat laki-laki membawa tas raketnya, ia tidak menggunakan baju olahraga tapi sepertinya dia juga pemain bulu tangkis” aku menceritakannya dengan antusias, ini kali pertamaku menceritakan seorang laki-laki kepada orang lain. “Oh ya? Lalu bagaimana? Kamu menyapanya?” tidak kuduga, respon Ella tidak kalah antusiasnya dengaku. “Ya aku tidak bisa menyapanya, karena kan aku di dalam mobil, sementara ia sedang berjalan” kemudian aku menunjukan ekspresi kecewa, begitu pula Ella. “Eh tapi omong-omong, kenapa kamu begitu semangat melihatnya, maksudku di sini juga kan tidak sedikit atlet laki-laki”aku mengerti maksud Ella. Jika dipikir-pikiraku memang tidak mengagumi siapapun di sini, mungkin saja tidak ada yang menarik bagiku. Tapi laki-laki yang kutemui tadi sore berbeda dengan yang lainnya. Ah entahlah, aku tidak mengerti.

          Aku menjalani keseharianku di asrama lagi, yang kulakukan di sini hanya berlatih berlatih dan berlatih, tidak ada yang lain. Hari demi hari aku memiliki teman baru. Kami selalu mengobrol bersama, membicarakan apa saja yang terlintas di pikiran. Dan tidak kusangka, mereka sangat mengagumiku, begitu katanya. Aku merasa senang, namun malu secara bersamaan. Padahal teman-temanku jauh lebih handal dalam bermain bulu tangkis, satu hal yang kutahu, di sini semua orang sangat hebat hingga aku pernah merasa bahwa akulah yang paling tertinggal. Tentu saja tidak pernah terpikirkan olehku bahwa ternyata selama ini banyak yang mengagumiku dan ingin berteman denganku, entah itu perempuan maupun laki-laki hanya saja mereka tidak memiliki keberanian. Dari mana aku tahu? tentu saja teman-teman yang sudah dekat denganku, awalnya aku tidak percaya namun melihat salah satu dari mereka yang begitu kesal akan responku, aku memercayainya. Oh iya, teman dekat laki-lakiku tidak banyak. Awalnya aku tidak begitu menginginkannya, tetapi begitu mendapatkannya aku menyadari betapa menyenangkan memiliki teman laki-laki. Dari situ, aku sangat ingin berteman dengan lawan jenis kali ini. Yang sebelumnya aku selalu malu-malu dan menolak tiap kali didekati laki-laki.

          Di usia mudaku ini aku sudah dapat dibilang mengikuti banyak kejuaraan, dan tidak jarang mendapat gelar sebagai juara. Aku tidak pernah bosan mengikuti kejuaraan, justru semakin aku sering mengikutinya, semakin besar keinginanku untuk memenangkan banyak kejuaraan. Tujuanku memenangkannya bukan semata-mata untuk dipuji, menjadi terkenal atau bahkan mencari perhatian. Namun inilah caraku untuk mencapai tujuan akhirku sebagai atlet bulutangkis. Banyak yang berkata bahwa aku sudah menjadi atlet sejak awal, namun bagiku seorang atlet tidak akan pernah berhenti melakukan sesuatu ketika seudah mendapatkan apa yang ia mau, justru yang dilakukan adalah mengikuti semua kejuaraan hingga tenaganya habis. Bagiku bulutangkis adalah segalanya, ibu sempat menawarkan kepadaku bila saja aku ingin berhenti dari bulutangkis dan hidup seperti anak remaja sewajarnya, bersekolah, hang out, bahkan berkencan, namun aku menolaknya karena menurutku dengan aku berlatih tiap harinya saja sudah sangat cukup membuatku bahagia. Orang yang paling ingin aku menjadi atlet adalah ayah, ia mendukung apapun yang kulakukan berhubungan dengan bulutangkis, namun tidak dengan lainnya. Aku tidak masalah dengan itu, karena aku memang tidak banyak tertarik dengan hal di luar bulutangkis.

          Menghabisi masa remajaku di sini, kemampuanku terus meningkat dari waktu ke waktu. Pelatih memanggilku ketika aku istirahat dari berlatih, kelihatannya beliau cukup serius. Aku berpikir bahwa mungkin aku akan diikuti kejuaraan lagi, dan benar saja aku akan ajukan untuk mengikuti Piala Sudirman. Aku menerimanya dengan senang hati, dan sudah tahu apa yang kulakukan. Aku menambah jadwal latihanku, pelatih juga sudah memberi tahu ayah ibu, dan mereka sangat memercayaiku seperti biasanya. Seringkali kembali ke asrama ketika Ella sudah tidur, dan pergi berlatih ketika Ella belum bangun. “Sebentar lagi temanku akan menjadi juara Piala Sudirman nih, kapan-kapan kau bisa mentraktirku, aku sudah siap ditraktir” goda Ella, tapi  jika dipikir-pikir aku tidak pernah mentraktirnya apalagi dengan hasil kejuaraanku. Terkadang hadiah kejuaraan juga bisa diberi uang, dan aku tidak pernah terpikirkan untuk mentraktir teman-temanku. “Iya nanti kalau aku menang, aku traktir kamu dan yang lainnya sepuasnya. Tapi ingat, kalau menang” balasku tersenyum kemudian keluar kamar untuk pergi belatih, sementara Ella baru saja bangun dari tidurnya, ia belum terlambat untuk sekolah hanya aku saja yang pergi lebih dulu.

          “Dian, kamu sudah di sini? mau latihan juga ya?” Aku tersenyum ketika melihat temanku. Dian sudah berada di aula dan terlihat siap untuk berlatih. “Aku ke sini hanya untuk menemanimu berlatih, ayo lawan aku” Dian kemudian ke tengah lapang dan berlompat-lompat kecil. Ia terlihat begitu semangat, akupun senang bisa berlatih dengannya. Kami berlatih berjam-jam dan memilih untuk beristirahat sebentar di pinggir lapangan. “Kamu sangat percaya tiap kali akan mengikuti kejuaraan, seperti tidak ada rasa gugup atau takut” celetuk Dian sembari mengelap keringatnya dengan handuk. “Siapa bilang aku tidak gugup, justru karena aku gugup dan takut aku berlatih dengan sangat keras sehingga perasaan itu terlupakan dan aku bisa semakin percaya diri” jawabku sedikit menyengir. “Orang tuaku sebenarnya tidak mengizinkanku bermain bulutangkis, tapi aku memaksa mereka dan meminta bantuan kepada kakekku untuk membujuknya” raut wajah Dian sedikit berubah menjadi lebih sedu. Aku bingung apa yang harus kukatakan, namun berakhir berkata “Tidak apa-apa, tunjukan bahwa dengan kamu melakukan bulutangkis, kamu bahagia, bisa berprestasi kemudian membuat mereka, ah bukan mereka tapi semua orang bangga”, aku menepuk pundaknnya. “Eiii ratu kita ternyata begitu bijaksana” godanya, aku hanya malu-malu dan memukul kakinya.

          Malam setelah berlatih, aku mengajak Ella untuk duduk santai di luar, menghirup udara dingin malam. Untungnya anak itu tidak pernah menolak ajakanku. “Menurutmu aku akan menang kali ini?” tanyaku sambil memakan roti yang baru saja kubeli. “Hmm, kamu inginnya aku menjawab apa?” Ella menyipitkan mata dan menatap tajam ke arahku. Aku mengambil minuman miliknya “Yang  bener-bener deh” Kemudian Ella mengambil kembali minuman miliknya “Ya tentu saja kamu akan mengahbiskannya. Lagipula siapa yang bisa mengalahkan Susi Susanti teman satu kamar Ella Rahmawati” jelasnya. “Tapi aku merasa karena aku selalu menang, mungkin kali ini saatnya aku kalah. Ah entahlah, aku kemarin saja susah tidur memikirkannya” aku kemudian memakan rotiku kasar, karena sudah sangat kacau dengan pikiranku seharian ini. Hari demi hari aku tetap berlatih dengan keras, terkadang berlatih bersama teman-temanku. Namun kali ini latihannya intensif dan hanya bersama pelatih. Pelatihku tidak pernah memaksakan apabila aku kelelahan, hanya saja dia selalu mengeluarkan kalimat yang akan membuatku tidak enak ketika aku tidak berlatih. Itulah cara pelatihku agar membuatku terus berlatih tanpa henti, aku juga tiap hari mendengar motivasi dan nasihat dari beliau. Kurang lebih satu bulan aku berlatih, dua hari sebelum kejuaraan aku sempat menangis karena rasa gugupku begitu kuat kali ini. Pikiranku terus berkata bahwa aku akan kalah pada kejuaraan kali ini. Aku menghampiri pelatih dan menceritakannya, untungnya beliau dapat menyelesaikannya dengan cepat. Pelatihku sangat bisa menenangkanku dan mengubah-ubah perasaanku. Meskipun dalam hati, rasa gugup itu masih ada, namun pelatihku membuatku untuk berani melawannnya.

          Inilah hari di mana aku mengikuti kejuaraan Piala Sudirman sebagai tim Indonesia, aku memikul harapan-harapan orang-orang yang memercayaiku. Dengan penuh percaya diri dan harapan. Aku menaiki bus dengan para pelatih dan beberapa atlet lain yang akan mengikuti kejuaraan yang sama denganku. Ketika bus baru saja berjalan, tanpa sengaja aku melihat laki-laki yang pernah kulihat sebelumnya. Kali ini ia menggunakan jaket olahraga, sepertinya ia baru saja berlatih tapi entahlah. Laki-laki itu membuatku sedikit terkejut bahkan fokusku hilang. Aku bertanya-tanya ada apa denganku tiap kali melihatnya. Aku kembali fokus dengan kejuaraan yang akan kuhadapi hari ini, bagaimanapun caranya aku bertekad untuk memenangkannya. “Susi, kamu kalau gugup, pikirkan saja hal-hal yang menyenangkan menurutmu. Jangan menjadi beban lalu dibawa stress. Menang atau kalah, kamu tetap juara untuk saya” Itu pelatihku, sepertinya ia baru saja melihatku melamun. Bukannya aku takut atau gugup aku hanya saja memikirkan laki-laki tadi, sepertinya aku tertarik dengannya. Aku mengangguk tersenyum sebagai respon kepada pelatihku.

          Sesampainya di tempat kejuaraan, tidak banyak yang kulakukan selain mempersiapkan diri. Awalnya aku ditemani pelatih di ruang tunggu, namun pelatih memberiku ruang untuk sendiri sebelum kejuaraanbenar-benar dimulai. Ketika kakiku melangkah memasuki area lapangan, rasa gugup perlahan menjalar. Aku membuang nafas perlahan dan berusaha fokus. Mengingat perkataan pelatihku bahwa sebaiknya aku memikirkan hal yang menyenangkan. Yang terlintas di pikiranku adalah aku akan mentraktir teman-temanku ketika memenenangkan kejuaraan ini. Aku juga akan dipeluk ayah ibu, lalu... laki-laki tadi tiba-tiba terpikirkan olehku, aku merasa aneh tapi nyatanya aku memang memikirkan dia bahkan selama dalam perjalanan. Ketika fokusku kembali, aku  mengeluarkan seluruh tanaga dan pikiran selama bertanding. Berteriak sesekali, untuk mengecoh fokus lawan dan menurunkan mentalnya. Berusaha sebaik mungkin untuk tidak takut dengan teriakan lawan, begitulah pemain bulu tangkis. Semangatku semakin bertambah baik ketika aku mencetak skor maupun ketika lawan yang mencetak skor. Aku hanya sangat bersemangat untuk kejuaraan ini. Di set kedua pun aku masih bersemangat bahkan ketika skor ku tertinggal. Namun rasa ingin menangku lebih besar dibanding rasa takut kalah.

          “YEAAAHHH!!!” Teriak pelatihku menghampiri dengan sangat senang memelukku begitu aku mencetak skor di atas lawan pada set kedua. Aku hampir mengeluarkan air mata namun nyatanya tidak. Rasa takutku benar-benar dikalahkan, aku berhasil kali ini. Entah karena kemampuanku atau hokiku bagus, namun aku sangat bahagia hari ini. Melakukan beberapa wawancara sebelum pulang, pelatihku mengajakku makan malam bersama tim. Kami benar-benar dalam suasana yang bagus saat itu. Tiada hentinya mereka menggodaku sebagai atlet juara dunia. Aku kembali ke asrama pukul 11 malam dan mendapat sambutan dari seluruh temanku. Mereka terlihat membawa beberapa snack, minuman, kertas puplen, kalung bunga yang entah dapat dari mana. Aku disambut layaknya putri, dikalungi bunga, kemudian dimintai tanda tangan layaknya artis, dan dibanjiri snack. Kelakuan mereka memang tidak bisa kuduga, aku sangat bersyukur dapat berteman dengan mereka. Kami akhirnya berkumpul hingga larut malam. Yang tadinya aku mengantuk, sudah hilang bagai ditelan bumi. Aku kembali segar dan bersemangat menceritakan mengenai kejuaraan tadi.

          “Wahhh, jangan-jangan nanti kamu menikah dengan pekerjaanmu sendiri” “Bahkan seorang laki-laki kalah menarik dibandingkan bulutangkis untuk Susi” “Bulutangkis sampai kamu jadi nenek-nenek ya Sus” ocehan mereka ada saja. Namun bicara laki-laki aku teringat kembali laki-laki tadi pagi. Rasanya aku mulai menyukai seseorang. “To, tipe perempuanmu seperti apa?” celetukku tiba-tiba. “Hmmm, tipeku ya. Aku suka perempuan rambut panjang, dan pintar memasak. Jadi nanti ketika kita berumah tangga aku akan makan dengan makanan enak buatannya” aku mengangguk mendengar jawaban Dito. “Kamu tidak akan bertanya mengenai tipeku?” Alex tiba-tiba angkat bicara. “Yasudah, kalau begitu tipemu seperti apa?” tannyaku. “Kalau aku, menyukai perempuan yang feminim, sopan dalam bersikap dan berkata” jawaban Alex mengundang godaan dari teman-teman lainnya.

          Akhir-akhir ini aku seringkali memikirkan bagaimana caranya aku bertemu laki-laki itu kembali. Aku juga teringat oleh perkataan teman lamaku yang mengatakan bahwa seharusnya perempuan tidak berkeringat dan berolahraga terlalu keras. Apakah laki-laki itu menyukai perempuan yang bermain bulutangkis, yang berlatih tiap saat dan berkeringat tiap saat. Memikirkannya membuatku lebih malas berlatih. Lebih tepatnya aku sedang dalam masa meragukan jalanku. Bagaimana jika aku dari awal tidak bermain bulutangkis. Aku akan bersekolah di sekolah umum, bermain dengan teman-teman,  tidak ada berlatih, dan yang paling penting aku akan lebih sering memakai rok. Sementara dengan bermain bulutangkis, yang kugunakan hanya baju dan celana olahraga.

          Kini aku sudah tidak diharuskan untuk tinggal di asrama, ada keringan boleh keluar asrama bahkan pulang sesaat. Namun aku memilih untuk menghabiskan waktu di asrama, karena jarak rumah dengan asrama tidak jauh, jadi tidak ada bedanya dengan sebelumnya. Akhir-akhir aku tidak ada semangat berlatih bulutangkis, aku ingin seperti perempuan pada umumnya. Terkadang aku melewatkan jadwal latihanku. Bahkan teman-temanku pun heran dan kesal denganku, kenapa aku kehilangan semangat setelah baru saja beberapa hari memenangkan Piala Sudirman. Tapi aku tetap berlatih walaupun dengan keadaan malas. Ingin rasanya mengatakan bahwa aku ingin berhenti dari bulutangkis, tapi aku merasa ini hanya perasaan sesaat, seperti rasa jenuh. Aku terkadang bercermin dan bertanya apakah aku cantik, apakah ada laki-laki yang menyukaiku, namun jawabanku sendiri adalah tidak. Aku sempat bertemu dengan laki-laki itu lagi di lapangan umum di tengah kota ketika aku hendak bermain bulutangkis di sana. Karena pada hari itu libur, jadi aku memutuskan bermain di luar. Namun begitu melihatnya sedang bermain juga aku mengurungkan niatku dan tidak ke lapangan. Yang kulakukan hanyalah memerhatikannya dari kejauhan, dia tampak handal sekali, aku bahkan tidak pernah melihat kelincahan seperti itu di klubku.

          Setelah bertemu dengannya lagi aku berpikir untuk merubah penampilanku,tapi rasanya tidak bisa jika terlihat oleh pelatih dan teman-teman klubku. Namun ketika aku mencoba menggunakan sepatu dengan hak tinggi aku dimarahi Ella, ia khawatir aku terjatuh dan melukai kakiku. Padahal aku pun bisa menggunakan sepatu dengan hak tinggi, tapi tidak pernah saja. Akhirnya aku menjadi lebih sering memikirkan laki-laki tersebut, tidak fokus berlatih bahkan malas. Kemalasanku terdengar oleh ayah dan berakhir aku dimarahi olehnya. Aku tidak pernah melihat ayah semarah ini, maksudku untuk apa memarahi anak remaja yang hanya ingin menikmati masa mudanya. Ahh iya, ayahku tidak mengetahui alasanku begini. “Ayah, kalau aku stop bermain bulutangkis, bagaimana?” pertanyaanku itu mendapat bentakan dari ayah. Aku kesal dan kembali ke kamar, sementara ibu ternyata mengikutiku ke kamar. “Susi kenapa? ko tiba-tiba ingin berhenti?” intonasi bicara ibu lebih lembut dari ayah. “Aku mau kaya anak perempuan lainnya, aku takut kalau aku main bulutangkis terus menerus tidak ada laki-laki yang tertarik denganku” jawabku. Ibu tersenyum mendengar pernyataanku “Susi lagi suka samaseseorang ya?”. Mataku membesar ketika tebakan ibu tepat sasaran. “Oh iya berarti. Gapapa ko, wajar kamu suka sama seseorang, mungkin kamu ingin berpenampilan beda ya di depan dia” lanjut ibu.

          Aku mengantar ibu keluar asrama dan meninggalkan klub namun sial aku justru bertemu dengan laki-laki itu. Aku bergegas kembali namun ternyata dia mengejarku bahkan menyebu namaku. “Susi ya?” ucapnya, aku hanya diam seribu bahasa,  tidak tau apa yang harus kukatakan. “Susi?” Dia mengulangnya. “Eh iya, Susi” aku tersenyum kecil tetapi sebenarnya pikiranku kemana-mana. “Alexander Alan, panggil aja Alan.” ia mengulurkan tangannya lalu kubalas ulurannya dengan rasa hati ingin meledak “Salam kenal Alan”. “Kalau kapan-kapan aku ajak bermain bulutangkis bersama, mau?” aku tidak percaya bahkan dia berkata akan mengajakku bermain bersama. Tapi bagaimana dengan berpenampilan feminim di depan laki-laki yang kusuka. “Iya, boleh” aku menjawab sembari menggaruk tekuk yang tidak gatal. Setelah itu kita berpisah, aku berpamitan terlebih dahulu dengan alasan temanku menunggu, padahal aku sangat gugup di depannya. Sesampainya di kamar aku melamun tidak memercayai apa yang baru saja terjadi. Bukan hanya berdiri di depannya, dia bahkan mengetahui namaku, tidak, bahkan aku memegang tangannya, aahhh tidak! dia bahkan akan mengajakku bermain bulu  tangkis bersama. Seketika lamunanku buyar ketika Ella memanggilku. “Dipanggil pelatihmu” aku mengangguk begitu mendengar perkataan Ella, dan bergegas keluar kamar. Ternyata pelatihku menawarkanku untuk rehat beberapa hari dari bulutangkis setelah berdiskusi dengan ayah. Aku memikirkan jawabannya saat itu juga, mengingat alasanku sebelumnya meminta berhenti namun mengingat pula kejadian tadi bertemu dengan Alan. Kemudian aku memutuskan untuk tetap lanjut, dan berjanji aku lebih baik ke depannya.

          Aku dan Alan menjadi lebih sering bertemu, namun tanpa sepengetahuan siapapun. Kami bisa dibilang menjadi sangat dekat, sering bermain bulutangkis bersama dan makan di luar bersama. Dan hal yang paling tidak masuk akal adalah, Alan mengajakku untuk berkencan dengannya. Bagaimana aku bisa menolaknya ketika dia adalah orang pertama yang kusukai. Aku memulai kisah cintaku di usia 17 tahun, dengan sesama atlet bulutangkis siapa yanng menyangka akan hal tersebut?

          Kabar aku dan Alan berkencan menjalar hingga ke teman-teman klub dan para pelatih. Bahkan ayah dan ibu mengetahuinya. Ibu tidak masalah akan hal itu namun ayah sangat marah ketika mendengarnya. Seringkali ayah mengabaikanku dan memkasaku untuk memutusi Alan. Aku mengerti ayah khawatir hubunganku dengan Alan akan menggangguku dalam berlatih bulutangkis namun sebisa mungkin aku menjelaskan bahwa Alan sudah menjadi salah satu semangatku dalam bermain. Ibu juga tidak henti-hentinya membujuk ayah untuk membiarkanku berkencan di usia yang wajar.

         Selama berkencan dengan Alan, kami tidakbegitu memiliki banyak waktu untuk bertemu karena jadwal masing-masing yang cukup padat. Kami berdua sibuk mengikuti kejuaraan-kejuaraan. Dalam keadaan berkencan, terkadang hubunganku denga Alan selalu dikatakan menjadi alasan atas kekalahanku, beberapa berkata bahwa aku saat itu sedang bertengkar dengan Alan, padahal memang bukan waktunya aku untuk menang saja. Tidak ada yang membeci hubungaku dengan Alan, bahkan teman-temanku turut senang. Hanya saja mereka kesal karena tidak diberi tahu bahwa aku pernah menyukai seorang laki-laki secara diam-diam. Selisih umurku dengan Alan berjarak 3 tahun. Alan juga sangat memiliki sikap yang dewasa, bijaksana dan gigih,  itu yang membuatku semakin kagum ketika mengenalnya lebih jauh.

         Aku sedang disibukan untuk persiapan Piala Sudirman tahun 1989 di Jakarta, sementara Alan akan mengikuti Belanda terbuka. Selama masa persiapan dan pelatihan kami hampir tidak pernah bertemu, karena jadwal kedua dari kami sangat padat. Di kejuaraan Piala Sudirman aku bertanding melawan pemain Korea. Pada set pertama dan kedua aku hampir kehilangan harapan karena di set kedua aku tertinggal 7-10. Namun aku mengerahkan seluruh tenagaku dan dapat mengakhiri set kedua dengan kemenangan 12-10. Di set ketiga rasa percaya diriku meluap  dan semangatku menggebu-gebu, aku memercayai bahwa aku bisa dengan mudah mengalahkan lawan pada set ini. Benar saja, aku memenangkan kejuaraan ini dengan skor 11-0. Rasa lega dan bangga atas diri sendiri menyelimuti diriku saat itu. Bicara Alan, ia juga berhasil mendapat gelar juara di Belanda Terbuka di tahun yang sama. Kami memang berkencan namun tidak menghalangi atau bahkan mematikan semangat untuk mengikuti dan memenangkan kejuaraan kejuaraan.

         4 Tahun sudah berjalan, aku dan Alan masih dengan status berkencan. Sejarah kemenangan kejuaraanku juga bertambah tiap tahunnya. Aku semakin dikenal Indonesia dan menjadi kebanggaan negara. Sekarang usiaku sudah menginjak 21, karierku di bulutangkis cukup bagus dan akan terus berlanjut. Siapa sangka aku akan mengikuti Olimpiade Barcelona sebagai pemain Indonesia, yang mana aku akan mewakilkan Indonesia dan menaggung harapan negara. Aku sudah sangat sering mengikuti kejuaraan, pertandingan dan olimpiade, namun kali ini akan terasa sangat berat dan lebih besar. Bukan hanya aku, Alan juga akan mengikuti Olimpiade Barcelona tahun ini (1992). Persiapanku kali ini tidak main-main, aku sangat berharap dapat mendapatkan gelar juara demi mengharumkan nama Indonesia.

          Di Barcelona aku sempat membuat pertemuan singkat dengan Alan, kami berbincang sebentar itupun seputar bulutangkis. Alan dan aku selalu saling membantu dalam bermain, kami juga saling mengoreksi dan berpendapat mengenai penampilan kami tiap bertanding. Perbincangan sebelum olimpiade yang tepatnya besok adalah cara bagaimana pemain luar bermain, dan tak-tik apa yang sebaiknya digunakan untuk melawan rival. Selain itu kami berbicara mengenai masa pelatihan, apa yang saja yang sulit selama berlatih dan apa saja yang didapatkan selama berlatih. Aku tidak pernah berhenti berdoa untuk kesuksesan Alan begitu pula Alan terhadapku, kami selalu dan akan selalu saling mendukung. Setiap salah satu dari kita ada yang kalah di kejuaraan, penampilan dan cara bermain selama kejuaraan tersebut akan diberi diberi apresiasi terlebih dahulu, lalu dikoreksi apabila ada kesalahan oleh salah satu dari kami juga.

          Saat Olimpiade aku mendapat bye di babak pertama yang akan menghadapi tunggal putri Jepang, Harumi Kohara, yang juga mendapatkan bye di babak pertama. Aku merasa tidak terlalu banyak beban dalam Olimpiade kali ini, tidak seburuk yang sebelumnya kupikirkan. Pada awal turnamen aku tidak mengalami kendala apapun, semua berjalan lancar. Aku menang dengan mudah 11-2 dan 11-2 atas pebulutangkis Jepas tersebut sebagai tunggal putri Indonesia. Selanjutnya  di babak ketiga aku menang kembali 11-4 dan 11-2 atas pebulutangkis Hongkong. Aku merasa sangat terdorong untuk meraih juara, yang kurasakan saat ini hanyalah gelar juara di depan mata. Berkat masa pelatihan dan pengalaman pengalaman yang kupunya, aku lagi-lagi dengan mudah menang 11-6 dan 11-2 atas pebulutangkis Thailand yang kemudia berlanjut dengan kemenangan atas pebulutangkis China dengan skor 11-4 dan 11-1 di semifinal. Tekanan kali ini mulai terasa, karena aku sudah berada di penghujung dan akan menjadi penentu, namun rasa pecara diriku tidak hilang dan terkubur begitu saja. Rivalku di final ini merupakan pemain asal Korea, Bang Soo-hyun yaitu pebulutangkis yang berhasil membawa tim Korea Selatan menyabet Piala Sudirman pada 1991 di Copenhagen di mana pada saat itu mengalahkanku dan timku pada Piala Sudirman tersebut. Maka ini adalah pertemuanku dengannya yang kedua kalinya. Ketika babak final dimulai, aku berhasil dibuat kesulitan di gim pertama, sempat merasa cemas namun pelatih mengarahkanku untuk tetap fokus. Aku hanya mendapat 5 poin dlam dim pertama, namun pada gim kedua Bang Soo-hyun lah yang hanya diberikan 5 poin. Peluang untuk menang sudah terlihat, kemenangan kali ini benar benar di depan mata, yang ada di pikiranku aku akan membuat sejarah dalam dunia bulutangkis. Atas izin Tuhan, aku diberi kesempatan untuk menjadi juara di Olimpiade Barcelona 1992 dan mendapatkan medali emas dengan skor telak 11-3. Air mataku tidak bisa tertahan, aku menangis ketika Sang Merah Putih dikibarkan dan lagu kebangsaan dikumandangkan. Tanpa disadari cita-cita Susi kecil menjadi atlet bulutangkis ternyata sudah tercapai, dengan segala pengorbanan.

          Tentang Alan, ia belum menyelesaikan olimpiadenya ketika aku sudah memenangkan tugasku. Yang ku lakukan berdoa demi kemenangan Alan, akan menjadi kebanggaan apabila kami sama-sama mendapat gelar juara di Olimpiade yan sama pula. Setelah 2 jam dari kemenanganku, aku mendapat kabar bahwa Alan berhasil meraih emas pula. Kami menjadi sorotan saat itu. Aku dan Alan merupakan atlet bulutangkis putri dan putri Indonesia pertama yang berhasil meraih emas di event dunia. Status kami pun menjadi perbincangan, banyak yang menyebut kami sebagai pasangan emas Indonesia. Merupakan kebanggaan yang tak terkirakan dapat mengharumkan nama bangsa dan kesenangan dapat memenangkan Olimpade kelas dunia dengan Alan, laki-laki yang dulunya sempat membuatku ingin berhenti bermain bulutangkis di usia 17 tahun, laki-laki pertama dan mungkin yang terakhir yang kusukai. Mengingat betapa banyak pengorbanan sejak kecil aku yang pernah diolok teman, dan sekarang aku sukses sebagai pemain bulutangkis pertama Indonesia yang mendapatkan emas bahkan bersama orang yang kucintai.

Komentar

  1. struktur teks cerita sejarahnya sudah lengkap, pemilihan kata yang digunakan juga mudah untuk dipahami, alur ceritanya sangat menarik untuk dibaca

    BalasHapus
  2. Ceritanya menarik, strukturnya sudah lengkap, penggunaan katanya ringan dan mudah dipahami

    BalasHapus
  3. Ceritanya sangat bagus serta penggunaan kaidah kebahasaan seperti kata bermakna lampau, majas, dan kalimat langsung sudah sangat baik👍

    BalasHapus
  4. Alur cerita, dan pembawaan karakter tokoh yang menarik, keren!

    BalasHapus
  5. ceritanya menarik dan sangat menginspirasi. Penggambaran tokoh serta srukturnya sudah jelas

    BalasHapus

Posting Komentar